Cagar Alam Pulau Sempu

24 08 2009

Geografis :

Pulau Sempu

Pulau Sempu di lihat dari Sendang Biru

Propinsi : Jawa Timur
Kabupaten : KAB. MALANG
Kecamatan : Sumbermanjing Wetan
Desa : Tambak Rejo
Luas : 887 Ha
Letak Geografis : 08˚ 26′ 38” LS 112˚ 41′ 43” BT

Deskripsi :

Berdasarkan data dari ProFauna Indonesia tahun 2007 lalu di Pulau Sempu telah ditemukan 144 jenis burung (Aves). Catatan ini membuktikan adanya peningkatan jumlah habitat burung, karena pada penelitian sebelumnya pada tahun 2000 tercatat di kawasan itu ditemukan 80 jenis burung.

Sehingga secara otomatis perkembangan terbaru di sana jumlah populasinya kian bertambah, sekitar 15 persen.

Memang, di Pulau Sempu masih banyak dijumpai beragam jenis burung langka seperti elang jawa (Spizaetus Bartelsi), julang emas (Aceros Undulatus), dara laut putih (Gygis Alba), rangkok badak (Buceros Rhinoceros), pelatuk ayam (Dryocopus Javavensis), kangkareng perut putih (Anthracoceros Albirostris), cekakak jawa (Halcyon Cyanoventris), dan masih banyak lainnya.

Adanya penemuan ini membawa sinyal positif bagi kawasan alam itu, untuk dijadikan tempat rujukan bagi yang ingin beredukasi tentang cagar alam. “Pulau Sempu adalah sebuah cagar alam yang sangat cocok bagi kehidupan satwa liar dan mempunyai konservasi tinggi,” urai Asep Rahmat Purnama, Direktur Eksekutif ProFauna Indonesia.

Pesona cagar alam lainnya yang ada di Pulau Sempu adalah adanya beragam keunikan alam dan kekayaan hayati, yang bisa diperuntukan bagi penelitian dan ilmu pengetahuan. Sedangkan ekosistem di Pulau Sempu sangat lengkap, yaitu ekosistem hutan bakau, hutan pantai, hutan hujan dataran rendah, dan danau.

Berdasarkan data dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Cagar Alam Pulau Sempu ini memiliki kekayaan flora, fauna, serta memiliki keunikan tersendiri di dalamnya. Di kawasan Cagar Alam Pulau Sempu itu setidaknya memiliki sekitar 223 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 144 marga dan 60 suku. Dari 60 suku telah diketahui lima suku yang memiliki jumlah individu, jenis dan marga yang relatif cukup banyak. Kelima suku itu adalah Moraceae, Euphorbiaeceae, Anacardiaceae, Annonaceae, dan Sterculiaceae.

Sedangkan untuk jenis fauna ada sekitar 51 jenis yang terdiri dari 36 jenis aves, 12 jenis mamalia dan tiga jenis reptil. Adapun yang paling sering dijumpai di antaranya babi hutan (Sus Scopa), kera hitam (Presbytis Cristata), belibis (Dendrosyqna Sp), lutung jawa (Trachypithecus Auratus), kukang (Nycticebus Coucang), macan tutul (Panthera Pardus), burung rangkong (Buceros Undulatus) dan berbagai jenis lainnya.

Pulau Sempu ditetapkan sebagai kawasan cagar alam lindung Jawa Timur berdasarkan SK. GB No. 26 Stbl. 1928 No. 69 Tahun 1928 dengan luas area 877 hektare. Letak kawasan Cagar Alam Pulau sempu di perairan Samudera Indonesia, yang secara administratif pemerintahan termasuk ke dalam Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Cagar Alam ini berada di bawah kelola Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jatim. Badan pengelola ini bertanggung jawab pada Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, yang secara struktur lembaga berada di bawah naungan Departemen Kehutanan Indonesia.

Spesifik

Secara geografis Cagar Alam Pulau Sempu terletak pada 8 derajat 27’24’’- 8 derajat 24’’54’ lintang selatan dan 112

Segara Anakan

Segara Anakan

derajat 40’45’’ – 112 derajat 42’’45’ bujur timur. Sedangkan wilayahnya berada pada ketinggian sekitar 50-250 meter dari permukaan laut (mdpl). Untuk kondisi iklimnya adalah zonasi iklim metode Schdmit- Ferguson tergolong pada tipe iklim C, yang artinya agak basah. Dengan kondisi curah hujan agak tinggi pada bulan Desember-Februari.

Berdasarkan kriteria iklim, fisioknomi (struktur hutan), perbedaan habitat, terutama tanah dan letak tinggi, formasi hutan di Cagar Alam Pulau Sempu dapat dikelompokkan menjadi tiga tipe vegetasi, yaitu tipe vegetasi hutan pantai, tipe vegetasi hutan mangrove, dan tipe vegetasi hutan tropika dataran rendah. Tipe vegetasi hutan pantai terutama diwakili oleh Baringtonia Asiatica, nyamplung (Calophyllum Inophyllum), waru laut (Hibiscus Tiliaceus). Sedangkan jenis vegetasi hutan tropika dataran rendah yang umum dijumpai di daerah pedalaman antara lain bendo (Arthocarpus Elasticus), triwulan (Mischocarpus Sundaicus), dan Buchaina Arborescens.

Begitu lengkap kondisi alam yang kaya akan flora dan fauna langka yang masuk dalam daftar Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), di Pulau Sempu sengaja tidak dibangun menjadi wisata sebagaimana mestinya. Sehingga di dalam sana tidak ada fasilitas akomodasi dan kebutuhan kehidupan yang memadai. Bahkan bagi para pengunjung yang diperbolehkan masuk adalah para peneliti, para penggiat lingkungan hidup, dan kalangan akademis. Oleh karena itu kami berharap pulau sempu tetap menjadi seperti itu. Marilah kita tingkatkan kesadaran kita akan lingkungan hidup demi anak cucu kita kelak.

 

Advertisements

Actions

Information

3 responses

23 08 2012
ardian

SALAM LESTARI….
makasih infonya, kalau boleh saya minta no CP, pengen trip ke sempu… katanya perijinanya sampai surabaya mas?
maturnuwun

21 01 2014
Ngalas Adventure

Mohon maaf utk penulis, dari komunitas pecinta alam politeknik kota MALANG.
Bagaimana bisa ada organisasi pecinta alam yg mempromosikan serta mengajak dan menginfokan untuk masuk area Cagar Alam? apalagi komunitas anda berada di kota Malang, dimana seharusnya komunitas pecinta alamnya menjaga area Cagar Alam.

5 05 2017
Asphalt

terima kasih atas masukkannya. kami juga merasa bersalah akan kami edit file tulisan kami. salam lestari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: